dai’s Blog


Kami Rindu Ini….
11 August 2009, 06:29
Filed under: Tak Berkategori

Persatuan atau ukhuwah Islamiyah adalah suatu hal yang sangat urgen bagi perkembangan Islam. Karena tanpa ukhuwah yang kuat, maka suatu ideologi tidak akan berkembang. Bahkan hanya akan berjalan stagnan karena kurangnya kekuatan. Dasar dari ukhuwah adalah :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali Imron : 103)

Padahal salah satu kekuatan dalam ukhuwah adalah kekuatan jamaah. Oleh karena itu, hal ini harus menjadi salah satu perhatian utama dalam perkembangan agama Islam.

Dalam ukhuwah, tentunya membutuhkan pemenuhan hak-hak untuk dapat memperlancar dan memperkuat tali ukhuwah. Ada sepuluh hak dalamnya ukhuwah. Hak-hak tersebut adalah :

  1. Hak Mencintai Saudaranya Karena Allah

Saudara yang dimaksud disini adalah seluruh manusia yang beragama muslim. Karena Allah telah menegaskan dalam kitab-Nya bahwa semua muslim di dunia ini pada hakekatnya hanya karena Allah. Oleh karena itu, kecintaan seseorang kepada orang lain hendaknya hanyalah karena Allah saja. Karena suatu kecintaan yang terjadi karena Allah tidak akan bertahan lama. Bahkan suatu saat bisa saja menjadi musuh seperti yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’anul Karim.

  1. Memberikan Bantuan Kepada Saudaranya, Baik Bantuan Harta Maupun Fisik

Tingkat kedudukan manusia yang bertingkat-tingkat adalah suatu alasan kenapa kita harus saling membantu dalam berbagai hal. Salah satu wujud dari saling membantu ini adalah sikap itsar. Yaitu sikap untuk mendahulukan saudaranya dalam kehidupan bersama. Manfaat dari saling memberi bantuan ini, persaudaraan/ukhuwah akan semakin erat. Karena dengan saling memberi bantuan, maka hati akan merasa bahwa ia mempunyai suatu hubungan yang lebih dari biasanya.

  1. Menjaga Kehormatan Saudaranya

Kehormatan saudara sesama muslim adalah salah satu dari tiga hal yang diharamkan untuk dirusak pada tiap muslim. Hal ini tertulis dalam sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut:

”Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian, serta kehormatan dan harga diri kalian haram atas kalian…(HR. Bukhari)

Salah satu wujud dari menjaga kehormatan saudaranya adalah dengan menahan diri untuk tidak menyebutkan kejelekan-kejelekannya. Lalu, janganlah menanyakan suatu hal terlalu detail. Karena bagaimanapun saudara kita pasti mempunyai sebuah privasi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, termasuk oleh saudaranya sendiri.

  1. Menjauhi Sifat Suuzhan Terhadap Saudaranya

Menjauhi sifat suuzhan adalah suatu hal yang sangat penting. Karena tidak jarang, suuzhon menjadi pemutus tali silaturahmi antar saudara. Hendaknya, kita harus selalu berusnuzhan apapun keadaannya. Kecuali jika kita melihat sendiri jika saudara kita tersebut benar-benar melakukan kezhaliman yang nyata. Karena tanpa ada bukti, terutama jika kita tidak melihat sendiri, itu belum bisa jadi bukti untuk men-judge seseorang bahwa dia bersalah.

  1. Menjauhi Perdebatan Dengan Saudaranya

Perdebatan adalah suatu bentuk dialog yang isinya adalah pembahasan terhadap suatu masalah dan masing-masing pihak yang berdialog tersebut memiliki pendapat serta menahan pendapat tersebut sekuat tenaganya. Karena sama-sama yakin bahwa pendapat mereka adalah suatu kebenaran. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa debat mempunyai potensi untuk merusak hubungan persaudaraan seseorang dengan seseorang yang lain. Apalagi jika perdebatan itu tidak mencapai titik temu dan timbul dendam.Oleh karena itu, hendaklah meninggalkan debat terhadap sesama saudaramu.

  1. Berbuat Baik Dengan Lisan Terhadap Saudaranya

Pembicaraan adalah salah satu gerbang menuju keakraban dan kedekatan. Dengan kedekatan yang kuat, maka akan timbul sifat tafahum terhadap saudaranya. Setelah timbul tafahum, biasanya tumbuh suatu kecintaan. Kecintaan yang bukan dilandasi karena nafsu, tapi karena pemahaman yang baik karena saudaranya. Oleh karena itu, ucapkanlah rasa cintamu terhadap saudaramu itu dengan lisanmu. Karena suatu ucapan biasanya akan lebih membekas dan akan lebih bermakna.

  1. Memaafkan Kesalahan Saudaranya

Dua orang manusia yang saling berkomunikasi tentunya tidak selalu dalam suasana yang ideal. Pasti juga pernah timbul suatu kesalahan yang terkadang membuat hati merasa marah. Namun, itu adalah salah satu sifat normal manusia. Jadi, janganlah ragu untuk memberi maaf saudaramu ketika ia berbuat salah yang tidak melanggar syariat.Bila kesalahan yang dia lakukan melanggar syariat, ada dua cara. Yang pertama, teruslah coba nasehati dia. Karena mungkin dia sedang kering hatinya dan membutuhkan nasehat. Cara yang kedua, kita hajr (jauhi) dia. Kita coba jangan menegur (mendiamkan) dia selama beberapa hari. Lalu amati perubahan sikapnya. Akan tetapi, hal ini tidak akan terlalu efektif jika diterapkan pada orang yang tidak sesuai (jika di-hajr malah makin jauh). Selain itu, kita juga bisa membantunya dengan membuat ia ingat akan kebaikan-kebaikannya. Insya Allah dia akan takut jika kebaikannya selama ini terbuang cuma-cuma dan bisa saja ia mau bertaubat dan kembali pada jalan yang benar.

  1. Gembira Dengan Karunia yang Allah berikan Kepada Saudaranya

Allah telah memberi rizki terhadap hamba-hamba-Nya sesuai dengan jatah mereka. Jadi untuk apa kita gengsi, apalagi sampai dengki (naudzubillah), ketika melihat saudara kita sedang bahagia. Rasulullah SAW pernah bersabda:

”Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri.

Riwayat tersebut harus diresapi dalam-dalam. Karena hasad akan buat kita menjadi tidak beriman. Oleh karena itu, gembiralah. Apa susahnya si ikut pada kegembiraan saudara kita yang lain?

  1. Menjalin Kerjasama dalam Kebaikan dan Kebajikan Bersama Saudaranya.
  2. Musyawarah dan Kesatuan Sesama Saudara

Semoga kita bisa mempraktekkan hal-hal tersebut di atas. Karena semua muslim adalah satu. Satu Tuhan, Allah SWT. Satu Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad SAW. Satu pedoman, Al-Qur’an dan Sunnah. Serta satu tujuan, kebahagiaan dunia akhirat. Wallahu’alam bis showab.(Sumber: Al Qur’anul Karim karangan Allah SWT dan Hak-Hak Persaudaraan Islam karangan Syaikh Shalih bin ’Abdul ’Aziz Alusy Syaikh)



Ketertataan Seorang Muslim
11 August 2009, 06:10
Filed under: Tak Berkategori

Islam adalah agama yang sempurna. Semua hal-hal diatur oleh Islam. Dari hal-hal yang kecil, seperti cara masuk WC, sampai hal yang besar, seperti politik diatur oleh Islam. Itulah yang menyebabkan Islam menjadi agama yang agung dan memiliki ketertataan dalam segala aspek.

Begitu jugalah seorang muslim seharusnya. Mereka harus memiliki ketertataan dalam berbagai aspek sehingga bisa menjadi teladan semua orang. Karena dimanapun tempatnya, hampir pasti seorang muslim, apalagi aktivis, pasti menjadi teladan. Jadi jika seorang muslim tersebut tidak menjadi teladan yang baik, bahkan menjadi pelopor kemaksiatan, maka orang-orang pun akan berkata “Dia ja kaya gitu,kok”. Tentunya ini menjadi preseden buruk bagi perkembangan dakwah Islam. Padahal dakwah Islam adalah dakwah yang syumul dan benar-benar menyentuh semua lapisan masyarakat.

Untuk mencapai semua itu, diperlukan juga kesadaran tinggi dari semua muslim. Karena tanpa kesadaran, semua yang dilakukan akan menjadi sebua keterpaksaan. Padahal, salah satu sumber kegagalan yang sangat utama adalah keterpaksaan. Dan jikapun berhasil, itu semua pasti tidak akan maksimal.

Ada bermacam-macam bentuk ketertataan dalam Islam. Salah satu contohnya bisa dilihat pada QS. Al Mu’minun ayat 12 - 16yang berbunyi sebagai berikut:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.(12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).(13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.(14) Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.(15) Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.(16)

Dalam ayat tersebut terpampang jelas mengenai keteraturan hidup manusia. Selain itu ada juga sebuah perkataan dari Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berbunyi sebagai berikut:

“Ada empat penyebab kerasnya hati, jika dilakukan secara berlebihan melampaui batas: tidur, makan, berbicara, dan bergaul (secara berlebihan)“.

Secara tidak langsung hal itu menyadarkan manusia untuk menjadi seseorang yang lebih steratur dalam segala tindak-tanduknya. Karena tindak-tanduk seseorang akan mencerminkan juga sifat orang tersebut. Oleh karena itu, jagalah selalu perilaku dan sifat kita. Agar masyarakat bisa punya kepercayaan lagi dengan para muslim yang ingin membuat kalimat Laa Ila ha illallah bisa tegak kembali di bumi Allah yang indah ini.

Dengan mempunyai keteraturan hidup yang sesuai, seorang manusia akan menjadi seorang yang luar biasa dan memiliki suatu keunggulan di manapun mereka berada.

Lalu, kenapa kita tidak berusaha memulainya? Sesuatu hal akan berhasil jika dimulai secepatnya tanpa menunda-nunda. (Sumber Al Qur’nul Karim karangan Allah SWT dan Jangan Berlebihan karangan Manshur bin Muhammad al-Muqrin)



Inilah Manusia yang Benar
11 August 2009, 06:08
Filed under: Tak Berkategori

Manusia, makhluk yang Allah ciptakan dengan kekuasaaannnya. Berasal dari tanah yang berwujud air mani yang memancar. Yang tertampung dalam rahim seorang manusia lain yang biasa disebut wanita. Di dalam rahim itu, terjadilah siklus kehidupan yang Allah terapkan. Dari nutfah menjadi alaqah, lalu berubah menjadi mudghah. Ditiupkannya ruh pada tubuhnya saat berusia 120 hari dan timbullah kehidupan calon manusia baru yang kelak akan menjadi pemimpin di bumi Allah semasa hidupnya.

Itulah awal mula manusia. Makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya. Makhluk yang dianugrahi dengan akal dan nafsu. Tidak seperti malaikat yang tidak Allah beri nafsu dan tidak seperti binatang yang hanya punya nafsu tanpa akal yang dapat membimbingnya untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Dengan optimalisasi dalam manajemen kedua hal tersebut (akal dan nafsu), manusia akan bisa mencapai kebahagiaan hidup. Oleh karena itu, tidak aneh jika kita sering melihat manusia yang terlihat seperti malaikat, karena saking hebatnya mereka menahan nafsunya dan kemampuan mereka dalam mengoptimalkan kemampuan otak untuk mendapatkan kebahagiaan abadi dari Allah. Namun, tidak sering pula kita melihat manusia yang seperti hewan. Manusia yang tidak mampu menahan nafsunya, bahkan kadang mengumbar nafsunya, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Tanpa ragu mereka berjalan-jalan dengn ketelanjangan mereka dalam mengumbar nafsu seperti kambing tua yang bau prengus.

Menjadi manusia yang hanya mengumbar nafsu, tentunya tidak akan punya guna bagi manusia lain dan semakin jauh dari kebahagiaan abadi. Padahal tidak dipungkiri, semua manusia yang masih memiliki akal yang normal tentunya menginginkan kebahagiaan abadi. Seperti yang Allah janjikan di surganya dengan air sungai yang mengalir di bawahnya. Subhanallah. Untuk mencapai itu semua, tentunya manusia harus menjadi seseorang yang mampu menahan nafsu dan bisa mengoptimalkan otak/ akalnya. Itulah yang diakomodasi oleh Islam. Karena salah satu tujuan Islam adalah untuk membangun manusia yang ideal (shalih). Dengan adanya manusia yang ideal, maka akan tercipta lagi kebaikan-kebaikan dunia yang akan membawa manusia menuju kebahagiaan abadi seperti keluarga yang shalih, masyarakat yang shalih, dan umat yang shalih (1)

Lalu timbul pertanyaan dalam kepala kita, seperti apakah manusia yang shalih itu?. Manusia yang shalih/ ideal memiliki karakteristik:

  1. Insan Iman dan Akidah

Manusia muslim merupakan insane iman dan akidah. Mereka telah jelas pemikirannya tentang diri mereka sendiri dan tentang alam semesta di sekitarnya. Mereka meyakini bahwa ada Rabb yang telah mengatur, mencipta, dan mengurus semua kehidupan yang ada di dunia ini.

  1. Insan Ritus dan Ibadah

Karena mengetahui bahwa alam yang diciptakan Allah untuknya, maka manusia yang ideal pun akan mengetahui bahwa dia diciptakan untuk Allah semata. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa manusia itu akan mempunyai tujuan hidup dan alasan kenapa dia diciptakan. Dengan mengetahui hal tersebut, tentunya seorang manusia yang ideal akan mencoba untuk melayani Tuhannya yaitu dengan menyembah-Nya. Sampai-sampai, manusia yang ideal juga akan membaktikan seluruh amalan dunianya untuk Allah semata karena keinginannya yang besar untuk mendapatkan ridho-Nya

  1. Insan Moral dan Tata Krama

Manusia yang ideal tentunya memiliki moral dan tata krama yang baik. Hal tersebut merupakan interpretasi dari Iman dan Akidah serta Ritus dan Ibadahnya. Iman dan akidah yang baik tentunya akan membuat seorang manusia memiliki arah untuk menjalankan kehidupannya sehingga tidak terombang-ambing dalam kemaksiatan. Sedangkan ritus dan ibadah yang baik akan membuat manusia menjadi semakin dekat, cinta, dan takut pada Allah. Karena semakin baik ibadah seseorang, maka dalam hati dan jiwanya akan timbul perasaan dekat dengan Allah. Dirinya juga akan merasa sangat bersalah ketika melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan nilai moral dan melanggar tata krama. Selain itu, manusia itu akan semakin cinta dengan Allah sehingga manusia itu akan takut untuk menyakiti dan membuat Allah cemburu dengan melakukan sesuatu yang dilarang-Nya seperti melanggar nilai-nilai moral dan tata krama.

  1. Insan Syariat dan Manhaj

Seorang insan yang ideal tentunya akan taat dengan konsep-konsep atau aturan yang diberikan oleh Tuhan-Nya. Oleh karena itu, seorang manusia yang baik akan selalu berusaha untuk melaksanakannya karena keyakinannya bahwa syariat/aturan dan konsep dari Allah tidak akan memberatkan mereka. Pada kenyataannya, memang begitu adanya. Syariat selalu memperhatikan kondisi seorang manusia. Karena Allah tentu menciptakan sesuatu aturan yang sesuai dengan kondisi umat pada waktu aturan itu Allah turunkan melalui perantaraan nabi dan rasul-Nya.

  1. Insan Dakwah dan Jihad

Manusia yang ideal (Muslim) tidak akan pernah berhenti untuk menyebarkan kebaikan dan selalu mencurahkan dirinya untuk memperbaiki orang lain serta mengajak manusia lain untuk selalu berada pada jalan-Nya yang lurus. Bentuk perjuangan seorang muslim sangat banyak. Namun, salah satu yang utama adalah menuntut ilmu. Hal itu adalah hal yang diwajibkan pada seorang muslim (insan ideal). Karena dengan menuntut ilmu, seorang manusia akan ter-upgrade untuk menjadi manusia yang terus berkembang untuk menjadi manusia yang terbaik.

  1. Insan Pembangunan dan Produksi

Seorang manusia ideal (muslim) bukanlah seorang biarawan atau pendeta yang berdiam dalam biaranya, melainkan sebagai insan yang beramal dan produktif dalam kehidupan dengan bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah.

Itulah karakteristik yang harus dimiliki oleh manusia jika ia ingin menjadi manusia yang ideal. Semua itu bisa didapatkan jika manusia tersebut benar-benar berazam yang kuat dan punya usaha yang keras serta selalu tetap berada di jalan Allah yang lurus. Jalan yang tidak terpengaruh oleh buaian setan yang terkutuk.

Sumber: Pengantar Kajian Islam (DR. Yusuf Al-Qardhawy)



Inikah wajah pelajar Indonesia sekarang??
30 July 2009, 19:49
Filed under: Tak Berkategori

Kadang diriku merasa aneh ada di dunia ni. Terlalu banyak hal yang sudah tidak sesuai dengan fitrahnya sekarang.Seperti yang diriku lihat pada hari ini,jam setengah 9, ketika aku sedang di warnet. Diriku melihat banyak sekali anak SMA. Kok bisa seperti ini ya?

Tidak dipungkiri lagi, banyak pemuda Indonesia yang lupa dengan tanggung jawabnya saat ini.Seperti anak SMA yang sekarang ada di sebelah kiri depan , belakang pojok kiri, dan belakang pojok kanan dari meja tempatku ngenet. Dengan enaknya mereka buka FS dan FB, mengupload foto,download lagu, dll. Seolah-olah dia tidak punya kewajiban. Padahal kewajiban dia adalah kewajiban yang Allah perintahkan untuk menuntut ilmu. Memang ilmu bisa didapat dimana saja, tapi apakah mereka lupa dengan orang tuanya? padahal orang tua mereka sudah bekerja keras untuk membiayai sekolahnya, bukan untuk ngenet di jam sekolah. Tapi mereka malah menyalahgunakannya dan wajah mereka tersurat senyum.Senyum yang akan menjadi pahit getir untuk orang tua dan para manusia yang mengharapkan pemuda berkualitas.Pemuda yang bisa berguna untuk agama,dirinya sendiri,orang tua,bangsa,dan negara.

Inilah realita yang terlihat sekarang. Namun, banyak pihak yang seolah menutup mata dari kenyataan ini. Seperti contohnya, pihak warnet. Seharusnya perlu peraturan yang tegas untuk pelajar yang ngenet saat jam sekolah.Minimal dengan menanyakan pada mereka apakah memang sekolah mereka sudah bubar atau belum.Selain itu perlu juga peran dari dinas pendidikan.Seharusnya dinas pendidikan membuat regulasi yang tegas untuk pelajar yang hobi bolos sehingga jumlah pelajar yang bolos bisa dikurangi. Pemda juga seharusnya bertindak untuk mengatasi ini.Salah satu caranya adalah dengan mengadakan razia rutin dengan bekerja sama dinas pendidikan.Jika ini bisa dilakukan,maka satpol PP akan punya aktivitas yang bermanfaat. peran sekolah juga sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan mengefektifkan absensi siswa dan mengaktifkan guru BK untuk mengurus pelajar yang bermasalah dengan mengkonsultasikan dengan orang tua.Dan ini peran yang paling vital, yaitu peran orang tua.Terkadang ada orang tua yang terlalu sibuk kerja sehingga perkembangan anaknya di sekolah tidak terkontrol.Bahkan terkadang mereka tidak mengetahui jika anaknya suka bolos atau bahkan hobi nakal yang lain seperti narkoba,pacaran,seks bebas,rokok,dll(naudzubillah).Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk lebih care terhadap anak mereka.Karena anak-anak yang masih sekolah adalah anak-anak yang masih butuh kasih sayang,kepedulian,pengawasan,dan perlindungan orang tua. Selain itu, diperlukan juga komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua. Karena dengan komunikasi yang baik, anak bisa lebih terpantau dan orang tua beserta sekolah bisa lebih mengarahkan pelajar sesuai dengan potensinya.

Pada intinya perlu komunikasi yang baik antara semua pihak agar potensi para pemuda/pelajar Indonesia ini bisa berkembang dengan baik. Selain itu pendidikan agama juga harus lebih ditekankan.Kenapa?agar akhlak para pemuda yang masih pelajar ini lebih baik dan mereka bisa punya pikiran untuk mengakhiri degradasi moral yang sedang dihadapi negara ini.Jika semua itu bisa dilakukan,diriku yakin kalau pemuda/pelajar Indonesia akan menjadi seseorang yang berguna dan bermanfaat di saat dewasanya.(for iqob by Dai Cha)



Sebuah Cerpen; Enaknya Bakso Rasa Istiqomah
5 December 2008, 01:06
Filed under: Tak Berkategori

Terik sang raja siang yang menyengat kulit pak Ahmad, tak dapat membunuh senyumnya yang bersahaja. Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya di pinggir jalan. Suara seorang ibu muda yang membutuhkan bantuannya. Suara yang sangat pak Ahmad harapkan. Dihampirilah sumber suara itu.

“Bang, pesen baksonya 1 mangkok ya.”

Itulah suara yang pak Ahmad tunggu setiap hari. Lalu gerobaknya dipinggirkan dan dilayanilah ibu itu sembari memberi senyum yang tulus dan ikhlas.

Begitulah pekerjaan pak Ahmad setiap hari. Keluar masuk kampung bersama gerobak tua yang menjadi sandaran hidupnya dan anak istrinya. Pekerjaan yang kumuh dan rendahan tapi halal dan sangat membantu orang lain. Walau terkadang berat dirasa, pekerjaan itu tetap dilakoninya dengan istiqomah dan tetap tersenyum. Karena sebagai lulusan SMP, hanya pekerjaan ini yang pak Ahmad sanggup lakukan. Setiap bekerja, panas terik mentari yang menerpa kulitnya adalah hal biasa. Dinginnya malam yang membuat tubuh menggigil dan menusuk tulang adalah selimutnya. Bahkan, berlari menghindari tramtib ketika ada razia adalah olahraganya. Dengan sabar dan bersemangat pak Ahmad melakukan pekerjaan ini. Senyum anak dan istrinya adalah penyemangat sejati. Tidak lupa satu cita-cita mulia yang selalu dia minta setiap qiyamul lail. Yaitu mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima.

“Abi, hati-hati ya! Tetap sabar dan jangan nyerah lho.”, pesan sang istri dengan senyum yang diiringi lesung pipit yang mempercantik wajahnya.

“Ya Mi. Doakan Abi ya. Umi juga hati-hati di rumah. Assalamualaikum.”,pesan pak Ahmad kepada sang istri.

“Wa’alaikumsalam.”

Tepat pukul 10.30, pak Ahmad mulai berkeliling keluar masuk kampung. Masuk kampung satu, lalu keluar. Setelah itu masuk kampung lain, lalu keluar lagi. Dan akhirnya, pak Ahmadpun memarkirkan gerobak baksonya di tempat biasa ia mangkal. Di depan masjid besar di depan balai kota. Baru 5 menit ia mangkal, sudah ada orang yang memesan baksonya.

“Bang, baksonya satu bang. Pake sambel ya.”

“Ya dek. Pake kecap nggak?”

“Pake bang. Tapi jangan banyak-banyak ya. O ya, jangan dikasih sawi ya.”

“Sip dek.”, sahut pak Ahmad dengan mantap sembari memberikan senyum penuh ketulusan.

Detik berlari, menit berjalan, dan jam pun melangkah sedikit demi sedikit. Tak terasa matahari sudah di atas dan bayangan yang terbentuk sudah bergeser sedikit. Adzan Dzuhur berkumandang. Menandakan panggilan sang Khalik kepada hamba-hamba-Nya untuk beribadah. Pak Ahmad pun langsung menuju ke masjid. Diambilnya air wudhu dan masuklah ke masjid untuk sholat. Takbir, ruku, i’tidal, sujud, dan tahiyat dia lakukan dengan tertib.

Setelah sholat selesai, ia berdoa, “Ya Allah, Engkaulah sang Maha Agung, sang Maha Berkehendak, dan sang Penguasa langit dan bumi. Tiada hal yang sulit di tangan-Mu. Semua adalah mudah bagi-Mu. Ya Allah, akulah hamba-Mu yang merinduka dan mencintai-Mu sepenuh hatiku. Hamba mohon kepada-Mu, berilah kuasa-Mu kepada hamba-Mu yang lemah, dhaif, dan penuh dosa ini untuk menyucikan diri dengan melaksanakan rukun Islam yang kelima. Permudahkan jalanku menuju Baitullah. Betapa rindunya aku untuk melihat rumah-Mu, sujud di rumah-Mu, dan thawaf di rumah-Mu. Ingin sekali hamba merasakan nikmatnya bermunajat di bumi Haram ya Allah. Ya Allah, aku tahu jika aku hanyalah seorang tukang bakso. Tapi aku juga tahu ya Allah, jika Engkau adalah sang Maha Berkehendak tidak ada satupun makhluk yang mampu menentangmu. Maka ya Allah, mampukanlah aku. Kabulkanlah doa hamba-Mu ini. Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang Maha Pengabul Doa. Amin.”

Tanpa terasa, air mata meleleh membasahi pipinya. Air mata ketulusan seorang hamba yang mengharapkan ridho Allah semata.

Suara jangkrik bersahutan menemani pak Ahmad di malam yang cerah dan bertaburan bintang ini. Ketika jalanan mulai sepi, pak Ahmad mulai mengemasi barang-barangnya.

“Braakkk!!!!”

Tiba-tiba terdengar suara benturan yang amat keras. Ternyata suara sebuah motor yang ditabrak oleh sebuah mobil. Si pengemudi mobi yang ketakutanpun kabur meninggalkan si pengendara motor yang tergeletak di jalan dalam keadaan tak sadarkan diri dan tubuhnya pun bersimbah darah. Tanpa berpikir panjang, pak Ahmad langsung lari menolong pemuda itu. Taksi ia hentikan dan gerobaknyapun ia tinggalkan. Segera saja ia bawa pemuda itu ke rumah sakit.

Setiba di rumah sakit, pak Ahmadpun membawa si pemuda ke ruang UGD dengan dibantu si supir taksi. Lalu ia kembali ke depan untuk membayar supir taksi tersebut.

“Bang,berapa bang?”

“50.000 pak.”

Pak Ahmad mengerutkan dahinya. Tanda kebingungan yang amat sangat karena ia hanya membawa uang sebanyak 100.000, hasil jualan bakso seharian. Tapi pak Ahmad pun langsung memberikan uang yang diminta si supir taksi dengan ikhlas. Lalu pak Ahmad menuju unit registrasi rumah sakit itu untuk membayar biaya registrasinya.

“Bu, berapa yang harus saya bayar untuk biaya registrasinya?”

“50.000 pak. Pasien ini harus mendapatkan perawatan khusus karena darahnya sudah banyak yang keluar.”

Kerut di dahi pak Ahmad jadi bertambah banyak. Dalam hatinya berkata,”Uangku habis ni. Nanti apa yang harus aku omongin ke istriku kalo dia tanya?”. Namun hatinya lebih memilih untuk membantu pemuda tersebut. Uang terakhir pak Ahmad pun diulurkan kepada si petugas registrasi tersebut. Pak Ahmad mengikhlaskan uang itu dan ia tetap berusaha tenang karena ia tahu jika Allah selalu berjanji:


Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(QS. Alam Nasyrah: 6)

Sesudah mengurus biaya registrasi rumah sakit, pak Ahmad meminjam telepon milik rumah sakit untuk mengabarkan keadaan si pemuda kepada keluarganya. Setelah itu, pak Ahmad kembali ke tempat mangkalnya untuk mengambil gerobak dan pulang ke rumahnya.

“Umi, Abi minta maaf. Hari ini Abi nggak bawa uang hasil jualan hari ini. Tadi uang yang Abi dapet, Abi pake buat bayar biaya rumah sakit orang yang tabrakan di jalan.”, ujar pak Ahmad kepada istrinya.

“Gak apa-apa Bi. Mungkin itu bukan rejeki kita. Umi bisa ngerti kok. Mungkin di balik itu ada pesan dari Allah yang berguna buat kehidupan kita. Abi yang sabar ya. Jangan sedih lagi. Sekarang Abi senyum ya.”

Kening pak Ahmadpun dicium oleh sang istri yang tabah dan pengertian terhadap suaminya. Senyum simpul penuh ketenanganpun merekah kembali di wajah pak Ahmad.

Esok hari, pak Ahmad bekerja seperti biasa dan kembali mangkal di tempat biasa. Tanpa diduga, dagangan yang biasanya ramai, sekarang menjadi sepi. Pak Ahmad termenung dan melamun. Tiba-tiba lamunannya terganggu oleh kedatangan seorang pria tua berjas hitam yang keluar dari sedan merk Volvo yang juga berwarna hitam menghampirinya.

“Apakah bapak yang bernama Ahmad Zakaria?”Tanya bapak berjas hitam itu.

“Betul pak. Ada apa ya pak? Bapak mau pesen bakso?”

“Mari Bapak ikut saya sebentar.”

Pria tua itu menarik tangan pak Ahmad dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tanpa sempat menolak, pak Ahmad masuk dan dibawa kw sebuah tempat yang mewah nan megah. Tamannya ditumbuhi rumput hijau dan dipenuhi bunga-bunga yang segar dan indah. Rumahnyapun bersih dan lantainya mengkilat. Di sela-sela kekagumannya, pria tua berjas hitam itu memperkenalkan dirinya.

“Pak Ahmad, maaf sudah membuat Bapak bingung. Perkenalkan, nama saya Budiman. Saya adalah ayah dari pemuda yang bapak tolong kemarin. Maksud saya mengajak bapak kemari adalah untuk berterima kasih atas pertolongan Bapak kepada anak saya. Saya sungguh tak bisa membayangkan jika tidak ada Bapak kemarin. Sebagai ucapan terima kasih, apa yang dapat saya lakukan untuk Bapak?”

Pak Ahmadpun menjawab,

“Nggak usah repot-repot pak. Saya menolong anak Bapak dengan ikhlas kok. Masalah imbalan, biar Allah saja yang ngasih.”

“Subhanallah, sungguh mulia sekali hati Bapak. Tapi saya tetap merasa tidak enak. O ya, apa yang jadi keinginan utama Bapak sekarang?”, tanya pak Budiman.

“Saya ingin naik haji. Saya rindu dengan Baitullah.”, jawab pak Ahmad jujur.

“Pak Ahmad, kebetulan saya juga berniat untuk pergi haji tahun ini. Sebagai ucapan terima kasih, saya mohon Bapak dan keluarga mau menemani saya untuk pergi haji bersama keluarga saya. Mohon jangan ditolak pak. Hanya ini permintaan saya buat Bapak senagai wujud terima kasih saya.”

Pak Ahmadpun meneteskan air mata bahagia. Segera ia bersujud syukur kepada Allah untuk berterima kasih atas nikmat yang dia terima. Pujian dan tasbihpun keluar dari mulutnya. Pak Ahmadpun mengangguk sebagai tanda setuju dan diiringi senyumnya yang tulus. Betapa bahagianya pak Ahmad. Keistiqomahannya dalam menjaga iman dan bekerja telah menghasilkan buahnya. Buah manis yang tak ternilai lezatnya dan tidak akan digantikan oleh buah yang lain kecuali buahnya surga. ( Dai Cha).